OJK Waspadai Risiko Fraud dan Digital Disruption di Sektor Keuangan

- Reporter

Rabu, 29 Oktober 2025 - 11:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penguatan tata kelola, manajemen risiko, serta peran profesi penunjang di sektor jasa keuangan untuk mewujudkan industri yang berintegritas, sehat, dan berkelanjutan. Pesan itu mengemuka dalam Forum GRC (Governance, Risk, and Compliance) yang digelar oleh OJK Jawa Tengah, Rabu (29/10/2025).

Forum yang mengusung tema “Penguatan Implementasi GRC Sektor Jasa Keuangan: Peran Profesi Penunjang” ini bertujuan meningkatkan tata kelola pelaku industri jasa keuangan (LJK) agar kinerjanya berkelanjutan dan mampu menghadapi tantangan global.

Kepala OJK Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Hidayat Prabowo, dalam laporannya memaparkan bahwa perekonomian di kedua wilayah tersebut tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi global.

“Secara umum, Provinsi Jawa Tengah dan DIY cukup resilien menghadapi tantangan saat ini maupun ke depan. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 masing-masing mencapai 5,28 persen di Jawa Tengah dan 5,49 persen di DIY, lebih tinggi dari pertumbuhan nasional sebesar 5,12 persen,” jelasnya.

Menurut Hidayat, pertumbuhan tersebut didorong sektor industri pengolahan, informasi dan komunikasi, serta konstruksi yang ditopang oleh infrastruktur dan ketersediaan tenaga kerja. “Khusus di Jawa Tengah, kawasan ekonomi khusus (KEK) Kendal dan Batang menjadi motor pertumbuhan dengan laju di atas 7 persen,” tambahnya.

Ia juga melaporkan bahwa industri perbankan di Jawa Tengah dan DIY menunjukkan kinerja positif hingga Agustus 2025, dengan pertumbuhan aset, kredit, dan dana pihak ketiga (DPK) yang solid. Pasar modal pun menunjukkan tren peningkatan melalui pertumbuhan jumlah investor dan nilai penjualan reksa dana.

Baca Juga :  Gubernur Jateng: Stok Elpiji Berlimpah, Masyarakat Diminta Tenang

“Namun demikian, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap menjadi perhatian utama kami,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hidayat menekankan pentingnya penerapan tata kelola dan manajemen risiko yang efektif di setiap lembaga jasa keuangan. Ia mengingatkan masih ditemukannya praktik bisnis yang tidak sehat akibat lemahnya pengendalian internal.

“Dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, kami menggunakan Three Lines Model. Pilar pertama adalah industri keuangan, pilar kedua profesi penunjang seperti akuntan publik, penilai, dan notaris, serta pilar ketiga adalah OJK sebagai pengawas,” paparnya.

Dengan sinergi tiga pilar tersebut, lanjutnya, sektor jasa keuangan diharapkan tumbuh kuat, stabil, dan berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Sementara itu, Ketua Dewan Audit OJK sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, Sophia Isabella Wattimena, dalam pemaparannya menyoroti pentingnya kolaborasi antar-lembaga dan profesi penunjang dalam memperkuat ekosistem tata kelola sektor jasa keuangan.

“OJK tidak bisa bekerja sendiri. Kami harus berkolaborasi dengan industri dan profesi penunjang agar ekosistem GRC semakin kuat,” ujarnya.

Sophia menjelaskan, berdasarkan publikasi Institute of Internal Auditors (IIA) tahun 2024 dan 2025, terdapat lima risiko utama yang akan dihadapi sektor jasa keuangan secara global hingga 2027, yakni cyber security, digital disruption (termasuk pemanfaatan AI), human capital, climate change, dan regulatory change.

Baca Juga :  Setahun Kerja Bareng, Kebutuhan Rumah di Jateng Menyusut 274.514 Unit

“Risiko-risiko ini bukan hal baru, tapi dampaknya semakin nyata. Terutama terkait cyber security, disrupsi digital, dan praktik fraud,” ungkapnya.

Sophia juga menyoroti meningkatnya kasus financial statement fraud atau manipulasi laporan keuangan yang dapat merugikan industri dan merusak kepercayaan publik.

“Kasusnya mungkin tidak banyak, tetapi nilai kerugiannya sangat besar, rata-rata bisa mencapai enam juta dolar AS per kasus,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena seperti window dressing dan financial engineering harus menjadi perhatian semua pihak. Ia menegaskan pentingnya transparansi dan keandalan laporan keuangan baik oleh pelaku usaha maupun auditor.

“Underlying bisnis harus benar, jangan ada laporan keuangan abal-abal. Ini tanggung jawab bersama antara industri, profesi penunjang, dan regulator,” tegas Sophia.

Dalam kesempatan itu, Sophia juga mengingatkan perlunya penerapan Three Lines Model tidak hanya di industri, tetapi juga di lembaga profesi penunjang. “Setiap pilar harus menjalankan perannya dengan efektif. Fungsi manajemen risiko, pengendalian kualitas, hingga audit internal perlu diperkuat,” jelasnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa tata kelola yang kuat dan peran aktif profesi penunjang merupakan fondasi penting bagi sektor jasa keuangan yang sehat dan dipercaya publik.

“Dengan ekosistem GRC yang solid, kita berharap industri jasa keuangan Indonesia dapat tumbuh berkelanjutan dan tangguh menghadapi tantangan global,” pungkasnya.***

Berita Terkait

Indomaret Fun Run 2026 Ramaikan Semarang, Peserta Berpeluang Bawa Pulang Honda Stylo
BRI x REI Expo 2026 Hadirkan Promo KPR Menarik di Queen City Mall Semarang
Ahmad Luthfi Dorong Pelajar Kuasai Industri Hijau, Jateng Perkuat Daya Saing Dunia
Pemprov Jateng Genjot Industri Hijau, Bidik Ekspor dan Investasi Berkualitas
Lebih dari 60 Brand Ramaikan IMPACT+ Semarang 2026, Antusiasme Peserta Pecahkan Rekor
Jawa Tengah Bidik Investasi Iran untuk Perkuat Industri, Pertanian, dan Pariwisata
AMDATARA Tanam Bibit Mangrove untuk Lestarikan Pesisir Jawa Tengah
KEK Kendal Moncer, Ahmad Luthfi Bidik Investor Singapura untuk Kawasan Industri Baru di Jateng

Berita Terkait

Jumat, 24 Juli 2026 - 19:07 WIB

Indomaret Fun Run 2026 Ramaikan Semarang, Peserta Berpeluang Bawa Pulang Honda Stylo

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:55 WIB

BRI x REI Expo 2026 Hadirkan Promo KPR Menarik di Queen City Mall Semarang

Jumat, 24 Juli 2026 - 15:53 WIB

Pemprov Jateng Genjot Industri Hijau, Bidik Ekspor dan Investasi Berkualitas

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:08 WIB

Lebih dari 60 Brand Ramaikan IMPACT+ Semarang 2026, Antusiasme Peserta Pecahkan Rekor

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:31 WIB

Jawa Tengah Bidik Investasi Iran untuk Perkuat Industri, Pertanian, dan Pariwisata

Berita Terbaru