Pangan Jawa Tengah Menguat, Kontribusi Nasional Kian Signifikan

- Reporter

Jumat, 2 Januari 2026 - 20:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Produktivitas pangan Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2025 berhasil memenuhi target nasional yangao ditetapkan pemerintah pusat. Capaian tersebut menjadi fondasi awal untuk memperkuat swasembada pangan daerah sekaligus meneguhkan peran Jawa Tengah sebagai penyangga pangan nasional pada 2026.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah per Desember 2025, produksi padi mencapai 11.377.731 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 9.397.904 ton Gabah Kering Giling (GKG). Dengan luas tanam sekitar 2.025.782 hektare dan luas panen 1.673.012 hektare, Jawa Tengah menempati posisi tiga besar kontributor beras nasional.

Sementara itu, produksi jagung Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai 3.837.758 ton dari luas panen 612.373 hektare, menjadikannya kontributor terbesar kedua secara nasional. Untuk komoditas kedelai, produksi tercatat sebesar 17.427 ton dengan luas panen 8.902 hektare dan menjadi kontributor terbesar nasional.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa capaian tersebut telah memenuhi target nasional dan menunjukkan peran strategis Jawa Tengah dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia.

“Dari target nasional 11 juta ton, wilayah Jawa Tengah telah memenuhi sekitar 9 juta ton. Artinya, kebutuhan pangan Jawa Tengah, khususnya beras, berkontribusi sekitar 17,5 persen terhadap kebutuhan nasional,” ujar Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu, 31 Desember 2025.

Baca Juga :  Jawa Tengah Tawarkan Sektor Pertanian dan Kesehatan kepada Investor Kanada

Menurutnya, capaian tahun 2025 menjadi pijakan penting untuk menghadapi tantangan tahun berikutnya. Berdasarkan peta jalan pembangunan daerah, 2026 ditetapkan sebagai tahun swasembada pangan Jawa Tengah untuk memperkuat posisinya sebagai penumpu pangan nasional.

“Kita harapkan pada 2026 produktivitas pangan Jawa Tengah dapat terus meningkat,” tegasnya.

Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menggenjot pembangunan infrastruktur pendukung sektor pertanian sejak 2025. Selain itu, Ahmad Luthfi menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan lahan pertanian dan mencegah alih fungsi lahan hijau.

“Luas wilayah Jawa Tengah sekitar 3,3 juta hektare, dan sekitar 1,3 juta hektare merupakan lahan pertanian. Ini harus kita pertahankan. Revitalisasi dan perlindungan lahan hijau telah saya koordinasikan dengan Menteri ATR/BPN agar tidak terjadi perubahan peruntukan,” ujarnya.

Dari sisi ketersediaan pangan, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah–DIY, Sri Muniati, memastikan stok pangan di wilayahnya dalam kondisi aman hingga Juni 2026. Data Bulog mencatat stok beras di Jawa Tengah saat ini mencapai 339.094 ton.

“Jumlah tersebut mencukupi hingga Juni 2026. Sementara realisasi pengadaan setara beras sepanjang 2025 mencapai 397.905 ton atau 100,3 persen dari target,” kata Sri Muniati.

Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan maupun stabilitas harga pangan. “Ketersediaan sangat cukup dan harga relatif stabil,” ujarnya.

Baca Juga :  Gandeng 105 Investor, Ahmad Luthfi Pacu Ekonomi Jateng dan Perluas Lapangan Kerja

Namun demikian, Sri Muniati menekankan bahwa penyerapan hasil panen membutuhkan sinergi lintas sektor. Menurutnya, Bulog tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah dan aparat terkait.

“Kami berharap koordinasi antara Bulog, dinas-dinas di Provinsi Jawa Tengah, serta dukungan TNI dan Polri terus diperkuat agar produksi dan panen petani dapat diserap secara maksimal oleh Jawa Tengah sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari, mengungkapkan pihaknya tengah menyiapkan regulasi berupa Peraturan Gubernur untuk memperkuat kapasitas internal daerah dalam pengelolaan pangan.

Penguatan tersebut dilakukan tidak hanya melalui Bulog, tetapi juga dengan melibatkan BUMD provinsi, BUMD kabupaten/kota, serta penggilingan padi skala kecil.

“Kami tidak melarang pengiriman pangan keluar Jawa Tengah, tetapi memperkuat kapasitas di dalam daerah. Salah satunya melalui program subsidi bunga pinjaman bagi penggilingan kecil agar memiliki permodalan yang lebih kuat. Program ini kami siapkan untuk 2026,” jelas Dyah.

Dengan capaian produksi yang solid, penguatan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis mampu meningkatkan kontribusinya dalam menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.*

 

Berita Terkait

Dari 537 Gagasan yang Masuk Pusaka Jateng, Taj Yasin: Jadi Bahan Kebijakan APBD Jateng 2027
3.754 Aset Senilai Rp37,7 Miliar Dikelola Digital, BKD Jateng Luncurkan Sipanda
MTQ Nasional 2026 Digelar di Jateng, Perputaran Ekonomi Ditaksir Capai Rp1,2 Triliun
Visiting Jogja Jadi Rujukan, PKA VII Jateng Perkuat Inovasi Desa Wisata
Batik Kalikajar Tembus Mancanegara, Kapulaga Perkuat Ekonomi Perempuan
Mau Liburan Lebih Hemat? BCA tiket.com Travel Fair Hadir di BCA EXPO 2026
Jaga Harga Pangan, Bulog Semarang Gencarkan Penyaluran Beras SPHP dan Minyakita
Jateng Pacu Produksi Susu dengan Teknologi Pengatur Jenis Kelamin Anak Sapi

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 18:46 WIB

Dari 537 Gagasan yang Masuk Pusaka Jateng, Taj Yasin: Jadi Bahan Kebijakan APBD Jateng 2027

Jumat, 11 September 2026 - 07:22 WIB

3.754 Aset Senilai Rp37,7 Miliar Dikelola Digital, BKD Jateng Luncurkan Sipanda

Rabu, 9 September 2026 - 17:43 WIB

MTQ Nasional 2026 Digelar di Jateng, Perputaran Ekonomi Ditaksir Capai Rp1,2 Triliun

Rabu, 9 September 2026 - 16:31 WIB

Visiting Jogja Jadi Rujukan, PKA VII Jateng Perkuat Inovasi Desa Wisata

Rabu, 9 September 2026 - 08:30 WIB

Batik Kalikajar Tembus Mancanegara, Kapulaga Perkuat Ekonomi Perempuan

Berita Terbaru