Menyusuri Jejak Kreativitas Arsitek Muda Unimus

- Reporter

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG – Di sebuah sudut Kota Lama Semarang, ratusan gagasan tentang ruang, bentuk, dan bangunan bertemu. Maket-maket berdiri, gambar desain tersusun, dan berbagai rancangan bangunan seolah mengajak pengunjung melihat dunia arsitektur dari sudut pandang yang berbeda.

Bukan sekadar bangunan yang dipamerkan. Di balik setiap karya, ada proses panjang, kegelisahan mencari ide, keberanian mencoba, hingga ketelitian mengubah gagasan menjadi sebuah rancangan.

Suasana itu terasa dalam Parade Desain: The Journey of Explore, pameran karya mahasiswa Program Studi S1 Arsitektur Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) yang digelar di Rumah Po Han, Kota Lama Semarang, 21-23 Agustus 2026.

Sekitar 300 karya mahasiswa dipajang dalam pameran tersebut. Karya-karya itu berasal dari berbagai jenjang semester, mulai mahasiswa semester pertama hingga mahasiswa tingkat akhir.

Ada maket estetika bentuk, gambar freehand, rancangan rumah dua lantai, pasar, terminal, stasiun, hingga gedung pertunjukan. Masing-masing memiliki cerita dan pendekatan desain yang berbeda.

Bagi Ketua Panitia Parade Desain, Niko Febrianto, keberagaman karya tersebut menunjukkan bahwa perjalanan menjadi seorang arsitek memang tidak pernah berhenti.

“Seorang arsitek itu belajar tidak berhenti. Sampai bekerja, sampai tua, ilmu arsitektur tidak berhenti untuk dipelajari,” kata Niko.

Kalimat tersebut sekaligus menjadi alasan dipilihnya tema The Journey of Explore. Arsitektur, menurut Niko, bukan sekadar kemampuan menggambar bangunan. Ada proses panjang untuk memahami persoalan, membaca lingkungan, mencari potensi, kemudian menerjemahkannya menjadi sebuah desain.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Publik

Pameran ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membawa karya mereka keluar dari ruang kelas.

Selama ini, desain yang dibuat mahasiswa mungkin hanya menjadi bagian dari tugas perkuliahan. Melalui pameran, karya tersebut mendapat ruang untuk dilihat, dinilai, dan diapresiasi masyarakat.

Niko mengatakan, pameran sekaligus menjadi sarana bagi mahasiswa belajar mempublikasikan karya.

Baca Juga :  Tingkatkan Gizi Anak di Banyumas, DPR dan BGN Sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis

Persiapannya pun tidak sebentar. Panitia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyiapkan kegiatan. Mereka menggelar rapat rutin, mempersiapkan karya, hingga mengundang berbagai pihak.

Sekitar 200 tamu turut diundang, mulai dari organisasi profesi arsitektur, dosen dan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Semarang, hingga organisasi mahasiswa di lingkungan Unimus.

Bagi Program Studi S1 Arsitektur Unimus yang masih relatif muda, kegiatan tersebut juga menjadi cara untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat.

Program studi itu baru berdiri sekitar lima tahun dan terus berupaya menunjukkan eksistensinya melalui karya.

Ketika Masalah Kota Menjadi Inspirasi

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah rancangan gedung pertunjukan seni milik Muzaki Ahmad, mahasiswa semester empat.

Maket tersebut bukan lahir dari imajinasi semata. Muzaki memulainya dari persoalan yang ia lihat di Semarang.

Selama ini, sejumlah pertunjukan musik berskala besar kerap memanfaatkan ruang terbuka seperti Lapangan Simpang Lima. Muzaki kemudian mencoba membayangkan sebuah gedung pertunjukan yang memang dirancang untuk mewadahi kegiatan seni dengan jumlah penonton besar.

Ia merancang gedung pertunjukan empat lantai dengan kapasitas sekitar 800 orang.

Konsep bangunannya terinspirasi dari pusaran air. Bagi Muzaki, pusaran menggambarkan arus yang bergerak dan kemudian menyatu menjadi sebuah kesatuan yang kuat.

Lokasi yang dipilih dalam rancangan berada di kawasan tepi laut. Karena itu, ia tidak hanya memikirkan ruang pertunjukan di dalam gedung, tetapi juga menghadirkan auditorium luar ruangan yang menghadap langsung ke laut.

Harapannya sederhana: ketika orang datang untuk menikmati pertunjukan, mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman dari dalam gedung, tetapi juga suasana kawasan dan pemandangan laut.

Rancangan tersebut menunjukkan bagaimana mahasiswa belajar melihat arsitektur bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari persoalan dan kebutuhan nyata.

Belajar Sebelum Terjun ke Dunia Nyata

Baca Juga :  Program Bisyaroh Hafiz Qur’an Pemprov Jateng Menjangkau Ribuan Santri Setiap Tahun

Ketua Program Studi S1 Arsitektur Unimus, Kania Kinasih, mengatakan proses seperti itu memang menjadi bagian penting dari pembelajaran mahasiswa.

Menurut dia, output utama pendidikan arsitektur adalah kemampuan merancang. Karena itu, karya mahasiswa yang ditampilkan dalam pameran merupakan gambaran dari proses pembelajaran yang mereka jalani.

Pameran ini juga menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia profesional.

Arsitek pada akhirnya akan menjadi praktisi yang memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi persoalan desain sejak masih berada di bangku kuliah.

“Ini cara kami mengenalkan Arsitektur Unimus kepada masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa Arsitektur Unimus sudah punya karya dan nantinya lulusan kami bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Kania.

Membawa Nilai Islam ke Dalam Desain

Ada satu karakter yang juga ingin diperkuat dalam pendidikan arsitektur di Unimus, yakni penciri arsitektur Islam.

Namun, Kania menegaskan bahwa arsitektur Islam tidak berarti setiap karya harus berbentuk masjid atau menampilkan simbol-simbol keagamaan secara eksplisit.

Lebih dari itu, nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam prinsip perancangan.

Salah satunya adalah mengutamakan fungsi dan kebermanfaatan. Sebuah bangunan tidak perlu dibuat berlebihan hanya demi terlihat megah apabila kemegahan tersebut tidak memiliki fungsi yang jelas.

Jika sebuah masjid dirancang untuk menampung 1.000 jamaah, misalnya, maka kapasitas dan skala bangunan disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.

Prinsip itu menjadi bagian dari cara mahasiswa memahami bahwa arsitektur bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangunan terlihat, tetapi juga tentang bagaimana bangunan tersebut digunakan dan memberikan manfaat.

Pameran Parade Desain: The Journey of Explore dibuka untuk masyarakat umum secara gratis. Pengunjung dapat menikmati sekitar 300 karya mahasiswa di Rumah Po Han, Kota Lama Semarang, pada 21-23 Agustus 2026, pukul 09.00-22.00 WIB.***

Berita Terkait

Pemprov Jateng Salurkan Tali Asih Hafiz-Hafizah Tanpa Proses Berbelit
Pemprov Jateng-Undip Dorong Kesadaran Relasi untuk Cegah Kekerasan Seksual
Taj Yasin Tekankan Hafalan Al-Qur’an Harus Diwujudkan dalam Perilaku
Mahasiswa NTT Terdampak Bencana Dapat Bantuan, Ahmad Luthfi Siapkan UKT dan Kos
Taj Yasin Beri Tali Asih untuk Santri Penghafal Al-Qur’an Usia Belia di Pati
Pemprov Jateng Jajaki Kolaborasi ACI untuk Perluas Beasiswa Pendidikan Santri
Perguruan Tinggi Didorong Jadi Estafet Pendidikan bagi Lulusan Sekolah Rakyat
Pemprov Jateng Perkuat Kolaborasi Pesantren dan Kampus melalui Pesantren Obah

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 15:48 WIB

Pemprov Jateng Salurkan Tali Asih Hafiz-Hafizah Tanpa Proses Berbelit

Kamis, 10 September 2026 - 11:13 WIB

Pemprov Jateng-Undip Dorong Kesadaran Relasi untuk Cegah Kekerasan Seksual

Rabu, 9 September 2026 - 07:03 WIB

Taj Yasin Tekankan Hafalan Al-Qur’an Harus Diwujudkan dalam Perilaku

Senin, 7 September 2026 - 17:18 WIB

Mahasiswa NTT Terdampak Bencana Dapat Bantuan, Ahmad Luthfi Siapkan UKT dan Kos

Sabtu, 5 September 2026 - 19:32 WIB

Taj Yasin Beri Tali Asih untuk Santri Penghafal Al-Qur’an Usia Belia di Pati

Berita Terbaru