Bupati Wonosobo Dorong Warganya Motori Pelestarian Kearifan Lokal

- Reporter

Selasa, 14 Januari 2025 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

WONOSOBO – Pelestarian warisan seni budaya lokal semakin penting, mengingat keberadaannya menjadi daya tarik yang mendukung pengembangan sektor pariwisata, sebagai salah satu sektor penyokong perekonomian daerah.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, saat membuka seminar nasional dan lokakarya bertajuk “Inovasi dan Konservasi Kesenian Tradisi” yang diselenggarakan Komunitas Seni Saras Swara Indonesia, di Pendopo Selatan, baru-baru ini.

Bupati meminta warganya untuk memotori gerakan-gerakan pelestarian kearifan lokal dan kekayaan seni budaya, melalui pendekatan-pendekatan yang inovatif.

“Besar harapan saya para peserta akan menjadi penggerak dalam upaya konservasi dan revitalisasi seni, budaya, dan kearifan lokal di tiap-tiap wilayah di Kabupaten Wonosobo,” imbuhnya.

Baca Juga :  Gus Yasin Jajal Paralayang Curug Sewu, Sebut Memuaskan dan Picu Adrenalin

Lebih lanjut, Visi Kabupaten Wonosobo 2045, yang termaktub dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Wonosobo Tahun 2025-2045, adalah Kabupaten Wonosobo sebagai Pusat Agrobisnis dan Pariwisata Terkemuka di Jawa Tengah yang Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan.

“Kita ketahui bersama, bahwa Kabupaten Wonosobo memiliki kekayaan luar biasa, tidak hanya pada keindahan bentang alamnya namun juga pada khazanah kearifan lokal, seni, dan budaya yang unik. Maka, sepatutnya upaya konservasi dan revitalisasi warisan seni budaya lokal dapat terus digelorakan,” ungkap Afif.

Salah seorang pemateri acara, Zulfikar, menyampaikan pentingnya memahami musik tradisi, sebagai entitas yang hidup, dengan nilai-nilai filosofis yang mendalam.

Baca Juga :  Sensasi Wisata dari Balik Jendela Kereta Api: KA Kaligung dan Kamandaka Tawarkan Keindahan Pesisir Pantura Jawa Tengah

“Musik tradisi bukan sekadar objek mati. Ia mengandung spirit dan sistem pengetahuan yang tetap hidup meski tidak dimainkan. Tradisi ini adalah dialog yang terus berlangsung,” jelasnya.

Senada, pemateri lainnya, Bayu menambahkan perspektif tentang bagaimana musik tradisi dapat bertahan di tengah arus modernisasi sambil menjaga identitas aslinya.

“Apa yang kita lakukan sekarang bisa saja menjadi tradisi di masa depan. Tantangannya adalah memastikan kreativitas kita tetap berakar pada tradisi, bukan sekadar menempel inovasi,” ungkapnya.

Berita Terkait

Film Badut Gendong Bikin Penonton Terpukau Lewat Horor dan Drama Kelam Tragis
Ngonthel Bersama 40 Negara, Prambanan Disebut Magnet Baru Pariwisata Dunia
Gus Yasin Jajal Paralayang Curug Sewu, Sebut Memuaskan dan Picu Adrenalin
Kunjungan Wisata Jateng Meningkat Selama Lebaran 2026, Didominasi Destinasi Ikonik
Pelangi di Mars Tayang Saat Lebaran, Suguhkan Hiburan Berkualitas untuk Semua Usia
Bus Manchester United Ikut Mudik Gratis Jateng, Ahmad Luthfi: Jangan-jangan Mudiknya ke Inggris?
THR dan Ramadan Tiba, Saatnya Upgrade Wardrobe dengan Levi’s® di Matahari Collection
SMA Cita Hati Surabaya dan ISI Yogyakarta Juara iForte NDC Semarang, Melaju ke Grand Final Jakarta

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 07:34 WIB

Film Badut Gendong Bikin Penonton Terpukau Lewat Horor dan Drama Kelam Tragis

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:37 WIB

Ngonthel Bersama 40 Negara, Prambanan Disebut Magnet Baru Pariwisata Dunia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 19:23 WIB

Gus Yasin Jajal Paralayang Curug Sewu, Sebut Memuaskan dan Picu Adrenalin

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:08 WIB

Kunjungan Wisata Jateng Meningkat Selama Lebaran 2026, Didominasi Destinasi Ikonik

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:45 WIB

Pelangi di Mars Tayang Saat Lebaran, Suguhkan Hiburan Berkualitas untuk Semua Usia

Berita Terbaru