Ahmad Luthfi: Birokrasi Tak Bisa Lagi Berjalan dengan Cara-Cara Rutinitas

- Reporter

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG– Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta para peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXVIII untuk tidak sekadar pulang membawa sertifikat. Mereka dipacu melahirkan terobosan yang mampu mentransformasi birokrasi, mempercepat pelayanan publik, dan menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat di daerah masing-masing.

Pesan tersebut disampaikan Luthfi saat membuka PKN Tingkat II Angkatan XXVIII di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, keberhasilan pelatihan kepemimpinan tidak diukur dari kelulusan peserta, melainkan dari perubahan yang mampu mereka ciptakan setelah kembali ke instansi masing-masing.

“Harapannya nanti setelah adanya PKN, dia pulang ke provinsi atau daerahnya bisa merubah daripada birokrasinya, atau mempunyai terobosan ide-ide kreatif, sehingga mereka akan lebih maju,” kata Luthfi, yang menggawangi Jawa Tengah bersama Wagub Taj Yasin.

Ia menegaskan, tantangan birokrasi saat ini semakin kompleks. Tekanan fiskal, dinamika geopolitik global, hingga tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi mengharuskan setiap pemimpin mampu berpikir adaptif dan berani melakukan inovasi.

Karena itu, kata Luthfi, kepemimpinan bukan sekadar menguasai teori, tetapi kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memastikan kebijakan berjalan efektif.

Baca Juga :  Peduli Kelompok Rentan, Wagub Jateng Minta Pemeriksaan Lanjut untuk Lansia Pengungsi

“Banyak teori kepemimpinan di tempat kita, tetapi bagaimana kita bisa mendengar, melihat, dan bekerja. Jadi yang paling efektif,” ujarnya.

Luthfi juga mengingatkan bahwa persoalan pemerintahan tidak bisa diselesaikan secara parsial ataupun mengandalkan satu orang. Kunci keberhasilan pembangunan adalah kolaborasi lintas sektor dan lintas pemerintahan.

“Mengatasi suatu problem juga tidak bisa sendiri-sendiri. Kita mengatasi problem tidak bisa one man show, parsial, kasus per kasus, tetapi harus kolaboratif secara bersama-sama,” tegasnya.

Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu membangun super team, bukan menjadi superman yang merasa bisa menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Sinergi perlu dibangun mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa.

Sebagai contoh, Luthfi menyinggung keberhasilan Jawa Tengah mempertahankan posisi sebagai lumbung pangan nasional. Pada 2025, produksi gabah provinsi ini mencapai sekitar 9,5 juta ton atau berkontribusi hampir 15,6 persen terhadap produksi nasional. Capaian tersebut, katanya, merupakan hasil kerja bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota dan organisasi perangkat daerah, bukan keberhasilan satu institusi semata.

Model kolaborasi serupa, lanjutnya, perlu diterapkan dalam pengembangan sektor pariwisata, ekonomi hijau, hingga penyelesaian berbagai persoalan pembangunan lainnya.

Baca Juga :  Bank Mandiri Taspen Tegaskan Tidak Ada Kredit Fiktif maupun Kredit Bermasalah dalam Kasus di Purwokerto

Berdasarkan data BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, PKN Tingkat II Angkatan XXVIII diikuti 51 peserta yang berasal dari kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten/kota dari berbagai wilayah Indonesia. Keberagaman tersebut dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat jejaring, bertukar pengalaman, dan membangun praktik-praktik terbaik dalam tata kelola pemerintahan.

Sementara itu, Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Erna Erawati, menekankan bahwa pemimpin birokrasi masa depan harus memiliki tiga kompetensi utama, yakni kepemimpinan adaptif, berorientasi pada dampak, dan mampu membangun kolaborasi.

Menurutnya, masyarakat tidak lagi menilai keberhasilan pemerintah dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari sejauh mana pemerintah mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Masyarakat sering kali tidak menanyakan berapa banyak programnya. Masyarakat hanya menginginkan masalahnya selesai. Mereka menginginkan kehadiran negara yang benar-benar memiliki dampak atau makna bagi masyarakat,” kata Erna.

PKN Tingkat II Angkatan XXVIII dibuka dengan dihadiri Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Ayodhia G.L. Kalake, Sekretaris BPSDM Kementerian Dalam Negeri Afrijal Dahrin DJ, jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta perwakilan pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.***

Berita Terkait

Puncak Fazzio Youth Festival 2026 Digelar di Solo, Hadirkan JKT48 dan Biru Baru
Taj Yasin Tegaskan PAUD Fondasi Generasi Unggul, Jateng Luncurkan Modul PAUD EMAS
Undian Tabungan Bima Bank Jateng Tebar Ratusan Hadiah, Dua Nasabah Raih Grand Prize Mobil
Hadapi Ancaman Bencana, Ahmad Luthfi Minta PMI Perkuat Mitigasi dan Layanan Darurat
Bapenda Jateng Perluas Inovasi, Samsat Corner dan Samkeldes Hadir di Kecamatan Juwana
Jateng Lampaui Target Penanganan Backlog Rumah 140 Persen, 65.449 Keluarga Kini Miliki Hunian
Pemprov Jateng Mulai Sisihkan Anggaran untuk Pembiayaan Pilgub 2029
Brebes Selatan Diusulkan Jadi Kabupaten Baru, Pemprov Jateng Sebut Syarat Awal Telah Terpenuhi

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:51 WIB

Puncak Fazzio Youth Festival 2026 Digelar di Solo, Hadirkan JKT48 dan Biru Baru

Senin, 3 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Ahmad Luthfi: Birokrasi Tak Bisa Lagi Berjalan dengan Cara-Cara Rutinitas

Minggu, 2 Agustus 2026 - 19:05 WIB

Undian Tabungan Bima Bank Jateng Tebar Ratusan Hadiah, Dua Nasabah Raih Grand Prize Mobil

Jumat, 31 Juli 2026 - 17:45 WIB

Hadapi Ancaman Bencana, Ahmad Luthfi Minta PMI Perkuat Mitigasi dan Layanan Darurat

Jumat, 31 Juli 2026 - 16:24 WIB

Bapenda Jateng Perluas Inovasi, Samsat Corner dan Samkeldes Hadir di Kecamatan Juwana

Berita Terbaru